Pola Konsumsi Belanja Masyarakat Perkotaan

Posted by indri sinta octari on April 12, 2017 with No comments



Pola Konsumsi Belanja Masyarakat Perkotaan
Indri Sinta Octari
(Studi Kasus: Matahari Departement Store Cabang Jalan Kapten Muslihat Kota Bogor)
4825140980
Sosiologi Pembangunan A 2014

Abstrak
Saat ini belanja merupakan aktifitas rutin yang dilakukan masyarakat urban. Dalam kegiatan berbelanja di store moderen yang mereka lakukan, ternyata dapat mempengaruhi perubahan gaya hidup berbelanja  masyarakat, dimana saat ini berbelanja bukan lagi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan saja. Berbelanja saat ini sudah menjadi nilai simbolik masyarakat yang beorientasi pada gaya hidup. Munculnya Matahari Departmenet Store sebagai pelopor store modern di Indonesia menjadi salah satu dampak dari perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat moderen. Dapat dilihat dari semakin banyaknya cabang-cabang Matahari Departement Store yang hampir ada di seluruh kota di Indonesia.
Kata kunci : Konsumsi, gaya hidup, store modern
Pengantar
Tulisan ini akan mengulas pola konsumsi dan sebuah gaya hidup serta konstruksi sosial yang dibangun di balik sebuah aktifitas konsumsi masyarkaat urban. Tulisan ini mengambil latar belakang pola konsumsi masyarakat Kota Bogor dimana tingkat konsumsi warganya terbilang cukup tinggi. Aktifitas konsumsi disini akan membahas kegiatan belanja yang dilakukan masyarakat urban, khususnya berbelanja di store moderen. Dimana kegiatan berbelanja saat ini bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan pokok saja, tetapi tidak jarang kegiatan berbelanja yang mereka lakukan hanya untuk memenuhi hasrat keinginan untuk memiliki barang tertentu dan bahkan dalam rangka menunjukan identitas dirinya melalui berbelanja. Kegiatan belanja yang mereka lakukan tidak lain merujuk kepada gaya hidup masyarakat kaum urban di kota-kota besar yang berkerja di sektor formal dan terbiasa dengan gaya hidup hedonis.
Gaya hidup hedonis masyarakat urban tersebut ternyata juga dapat mempengaruhi nilai-nilai terhadap suatu barang. Barang-barang dimata masyarakat saat ini khususnya masyarakat urban, memiliki nilai simbolik yang dapat menunjang atau dapat juga menurunkan identitas diri mereka melalui barang-barang yang mereka pakai. Merujuk pada pengertian simbol menurut William Dillistone yaitu simbol merupakan gambaran dari suatu objek nyata atau khayal yang menggugah perasaan atau digugah oleh perasaan, perasaan-perasaan tersebut berhubungan dengan objek, satu sama lain, dan dengan subjek.[1] Jelas bahwa barang-barang yang masyarakat pakai saat ini dapat menggugah perasaan dirinya sendiri atau orang lain, tergantung pada penilaian seseorang terhadap barang tersebut. Barang akan dianggap lebih berharga atau mewah manakala barang yang seseorang gunakan memiliki merek ternama atau original. Sebaliknya, barang-barang yang tidak memiliki merek ternama dan bahkan “KW” pada zaman sekarang dianggap tidak memiliki nilai prestise terhadap orang lain.
Masyarakat pada dasarnya memang tidak dapat terlepas dari kegiatan ekonomi baik produksi, distribusi dan konsumsi. Selain dari kegiatan ekonomi, manusia pada hakikatnya memang menempatkan dirinya pada orang lain, dimana manusia tidak dapat hidup tanpa adanya orang lain. Manusia khususnya masyarakat membutuhkan pola konsumsi sebagai tujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis dirinya mulai dari sandang, pangan dan papan. Hal tersebut lah yang membuat sotre moderen khususnya Matahari Departemen Store berkembang pesat dengan membuka cabang-cabang baru.
Dengan adanya Matahari Departement Store di Kota Bogor, membuat masyarakat melakukan aktifitas konsumsi yang memang mereka inginkan. Sebagai salah satu store modern ternama dengan berbagai fasilitas yang mereka tawarkan tentu dapat memanjakan pembelinya. Matahari Departement Store pada dasarnya memanfaatkan pola konsumsi masyarakat terutama kelas menengah ke atas. Dimana masyarakat kelas menengah ke atas rata-rata memiliki pola konsumsi yang instan dan ingin selalu dimanjakan oleh fasilitas-fasilitas moderen. Selain itu, masyarakat urban juga sudah tidak mau lagi berdesak-desakan di pasar tradisional yang kondisinya tidak nyaman, mulai dari fasilitas, suasana dan barang belanja yang tidak memuaskan.
Tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah profil Matahari Departement Store yang menyajikan fasilitas-fasilitas dan barang dagangan yang dicari oleh masyarakat menengah ke atas. Kedua,  pola konsumsi belanja masyarakat Kota Bogor dan ketiga, makna dan gaya hidup berbelanja di store modern.
Profil Matahari Departement Store
Matahari Depertement Store adalah perusahaan ritel terkemuka yang menyediakan perlengkapan paikan, asesoris, sepatu dan sandal, parfum, produk kecantikan dan produk fasion lainnya. Sebelum menjadi store besar dan terkemuka, dahulu store ini berbentuk gerai yang dibuka oleh Hari Darmawan di daerah Pasar Baru Jakarta Pusat pada tanggal 24 Oktober 1958 dan hanya menjual pakaian-pakaian sederhana dalam bentuk jadi maupun bahan mentah. Namun dengan omset perbulan yang jumlahnya besar, Pak Hari Darmawan akhirnya memutuskan untuk memperluas toko tersebut pada tahun 1978 dan mendirikan cabang di berbagai lokasi.[2]
Cabang pertama yang didirikan di luar Jakarta adalah Matahari Departement Store cabang bogor, yang dahulu bernama Sinar Matahari Bogor. Cabang pertamanya ini di dirikan pada tahun 1980, Matahari cabang Bogor ini berlokasi di Jl. Raya Kapten Muslihat No.14 Bogor Tengah. Letaknya yang strategis yaitu di sekitar pasar anyar tepat di sebrang taman Topi Square dan dekat dengan stasiun Bogor, membuat Matahari Departement Store tidak pernah sepi pengunjung. Dengan bangunan yang masih orisinil sejak awal didirikan sampai sekarang dan dengan perenofasian gedung secara berkala, membuat Matahari Departement Store masih menjadi tempat favorit berbelanja untuk masyarakat Kota Bogor dan sekitarnya.
Pemilihan letak yang strategis dalam menentukan letak dari suatu perusahaan atau store, merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh seseorang atau sekelompok pengusaha untuk dapat menarik pelanggan dengan cepat. Hal tersebut tentunya akan mempermudah akses dari para konsumennya. Bila kita balik ke pembahasan sebelumnya tentang instan, tentu kemudahan akeses untuk mencapai tujuan mereka ke Matahari Departement Store ini akan terealisasikan. Berbeda bila store moderen ini berada di pojok-pojok daerah yang aksesnya sulit dan daya beli masyarakatnya rendah, tentu akan berdampak buruk kepada penghasilan dan pemasukan yang didapat oleh departement store itu sendiri.
Foto 1 : Tampak depan Matahari Departement store cabang Bogor
(Koleksi Foto Probadi)
            Dari foto diiatas dapat dibuktikan bahwa letak Matahari Departement Store cabang Bogor memiliki letak yang trategis, dimana letakanya berada di pinggir jalan dan dapat di akses dengan mudah melalui angkutan umum. Di sebelah kiri terdapat Taman Topi Square yang kepopularitasannya masih kalah dengan Matahari Departement Store, karena lebih menawarkan belanjaan yang terbilang komplit. Sedangkan di sebelah kanan terdapat kantor polsek Bogor tengah, yang tentunya berpengaruh juga terhadap pola konsumsi konsumen. Konsumen diuntungkan dengan rasa aman, karena dengan fasilitas keamanan yang telah dimiliki oleh Matahari Departement Store , hal itu juga di dukung oleh adanya Kantor Polisi yang dapat mengamankan kondisi secara langsung yang terjadi di sekitaran Matahari Departement Store. Karena dapat diakses dengan angkutan umum, membuat para pengunjung Matahari tidak perlu repot-repot bermacet-macetan menggunakan kendaraan pribadi miliknya
            Tidak hanya tempatnya yang strategis, Matahari Departement Store ini mempunyai fasilitas yang sangat baik. Dengan suasananya yang nyaman dan adanya pendingin udara yang cukup, pencahayaan yang baik, adanya tempat mencoba baju dan konsumen yang datang disambut juga di layani oleh para pramuniaga yang menarik. Tidak kalah penting dari segi keamanan, Matahari memiliki keunggulan lainnya yaitu dengan adanya CCTV di berbagai tempat yang membuat rasa nyaman para konsumen makin terbentuk.  Fasilitas-fasilitas yang baik ini dapat menarik banyak orang untuk datang dan berbelanja disini.

            Foto 3,4,5 : suasana di dalam Matahari Departement Store dan fasilitas-fasilitas yang ada.

            Bisa dilihat pada gambar-gambar di atas, Gerai-gerai Matahari yang modern dan luas menyajikan pengalaman berbelanja dinamis dan inspiratif. Hal itu membuat konsumen ingin datang kembali dan menjadikan Matahari sebagai departement store pilihan di kalangan menengah Indonesia yang tumbuh pesat. Jika dibandingkan dengan pasar ritel tradisional tentu sangat berbeda. Di Matahari Departement Store barang-barang disusun dengan rapi dan disimpan di posisi yang mudah dijangkau oleh konsumen. Dengan Tempatnya pun luas dan tidak becek juga tidak berdesak-desakan walaupun Matahari ini selalu ramai pengunjung.
Perubahan pola konsumsi belanja masyarakat Kota Bogor
            Pola konsumsi dapat diartikan sebagai proporsi atau jumlah pengeluaran terhadap kebutuhan individu untuk memenuhi kebutuhannya yang diperoleh dari pendapataanya. Jadi, orang yang berepenghasilan tinggi pola konsumsinya pasti berbeda dengan orang yang berpenghasilan rendah. Selain pendapatan, pola konsumsi juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, kondisi tempat tinggal dan iklim, tingkat beradaban bangsa, kebiasaan dan kondisi sosial budaya, dan selera yang sedang berkembang di masyarakat. Namun, bagaimanapun tingkatan kelas sosial individu biasanya kebutuhan pokoklah yang pasti diutamakan.
Dalam konteks kehidupan masyarakat di kota, selain di pengaruhi oleh kepribadian konsumen, pola konsumsi juga dipengaruhi oleh lingkungan perkotaan yang moderen. Lingkungan perkotaan yang dimaksud adalah semakin banyak muncul pusat-pusat perbelanjaan moderen yang dapat mendorong orang untuk mengunjungi dan berbelanja secara terus menerus. Ini salah satu faktor yang menyebabkan berubahnya pola konsumsi masyarakat.
Berikut ini hasil wawancara kepada pengunjung dengan pertanyaan “seberapa sering anda belanja disini? Biasanya apa yang anda beli?”
“gatau deh gua berapa sering ya kesini ga ngitungin,biasanya beli baju atau sepatu sih. tapi gua sering banget kalau ngelewat sini terus liat ada promo-promo baju gitu di pajang di luar, gua pasti langsung masuk kesini. Kaya ada godaan gitu. Jadi suka beli baju beberapa biji dehh padahal lagi ga butuh-butuh amat” (Rega Putri, 19tahun, mahasiswa STIE Binaniaga)
“ihh gua tuh jarang banget tau kesini soalnya emang gua jarang belanja, paling pas lebaran aja atau kalau mau ke undangan beli baju dulu hahahahaaha. Apalagi kalau lebaran gua suka gakuat liat iklan di tv bajunya Matahari bagus-bagus banget dah gua jadi pengen apalagi  yang matahari diskonnya bisa buy 2 get 1 atau dapet voucer belanja. Ampun deh ternyata pas kesini emang bener waktu itu gua dapet voucer gocap!” (Farah fadiah, 20 tahun, mahasiswi)
Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pada tempat  perbelanjaan modern seperti Matahari Departement Store, pengunjung cenderung dibimbing untuk membeli suatu barang setelah melihat dan tertarik pada suatu produk. Sehingga orang akan memutuskan untuk membeli setelah dia berinteraksi dengan produk yang dipamerkan memang mendorong orang untuk dibeli.Disini pola konsumsi sudah berubah, yang tadinya untuk memenuhi kebutuhan dari hasil pendapatnya menjadi hanya untuk memuas kan hasrat semata. Seperti yang di katakan Jean Bouldiard yang mencirikan masyarakat konsumer sebagai masyarakat yang didalamnya terjadi pergeseran logika dalam konsumsi, yaitu dari logika kebutuhan menuju logika hasrat, yaitu bagaimana konsumsi menjadi pemenuhan akan tanda-tanda.[3]
Hasil dari wawancara tersebut juga didapat bahwa media massa baik cetak maupun elektronik terutama iklan televisi telah membentuk pola konsumsi pada masyarakat dalam membeli produk. Interaksi antara seseorang dan media iklan dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam memilih sebelum memutuskan untuk membeli barang. Seperti misalnya iklan Matahari Departement Store di televisi yang diperankan oleh artis cantik dengan menggunakan baju dari Matahari. Artis yang menjadi model iklan ini terlihat sangat menawan  dan seketika banyak lelaki yang terpesona oleh gadis tersebut karena baju yang ia pakai. Konsumen yang melihat iklan tersebut tertarik dan ingin terlihat cantik seperti artis yang mengisi iklan  baju dari Mataharitersebut. Tentu ini sangat berlebihan karena ketertarikan lawan jenis tidak serta merta terjadi begitu saja karena perubahan baju yang dipakai.
Kasus iklan ini sangat berkaitan dengan teori simulasi teknologi (technologi of simulacra) yang diungkapkan oleh Jean Baudrillard. Melalui teorinya ia menggambarkan kehidupan masyarakat modern ini sebagai hiper-realitas. Media berhenti menjadi cerminan realitas, tetapi justru menjadi realitas itu sendiri atau bahkan lebih nyata dari realitas itu. Misalnya TV, surat kabar, tabloid yang semakin populer disini kebohongan dan distrosi yang disajikan kepada pemirsa melebihi relitas. Kebohongan dan distrosi itu adalah hiper-realitas[4].
Selain itu gaya hidup masyarakat saat ini yang mengutamakan brand image menyebabkan gaya hidup yang mengarah pada perilaku hedonis. Gaya hidup yang mengarah ke prilaku hedonis berkembang secara pesat pada masyarakat kaum urban sekarang. Membuat penilaian terhadap barang yang memiliki brand ternama menjadi lebih memiliki nilai sosial (prestise). Karena memiliki nilai sosial inilah, membuat masyarakat urban secara tidak sadar memiliki pola konsumsi yang mengarah ke konsumerisme. Konsumerisme merupakan merupakan ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan tidak sadar serta akan terus berkelanjutan.[5]
Pola konsumsi konsumerisme mengakibatkan orang boros dan hanya memberikan kebutuhan palsu kepada masyarakat. Budaya konsumerisme hanya mengharagai orang dari sebanyak apa mereka mengeluarkan uang untuk mengonsumsi.[6]Semakin banyak dan prestise barang yang dibeli seseorang semakin ia dihargai. Supaya mendapat penghargaan orang rela membeli barang-barang yang sebetulnya tidak terlalu ia perlukan atau diluar kemampuannya. Bahkan sering dari mereka rela menabung dengan susah payah agar dapat membeli barang yang memiliki brand ternama yang sangat mereka impikan padahal hal tersebut tidak menjadi kebutuhan pokok dari dirinya. Hal tersebut dapat menjadikan masyarakat menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat bahkan susah dihilangkan.
Ketergantungan kepada suatu produk tersebut diakibatkan masyarakat konsumerisme dalam hal ini tidak akan pernah merasa terpuaskan, hanya demi suatu “perbedaan”. Kegiatan konsumsi yang dilakukan masyarakat urban bukan hanya melihat dari segi fungsi dan kenikmatan saja, tapi juga untuk memperoleh perbedaan. Lewat perbedaan ini lah status sosial seseorang dalam suatu masyarakat muncul. Masyarakat rela untuk merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk tampil beda.
Tabel I
Barang-barang ber”merek” yang dijual di Matahari Departement Store
No
Jenis barang
Brand yang tersedia
1
Pakaian dewasa
·         Nevada
·         St. Yves
·         Stanley Adams
·         Levi’s
·         Lois
·         Cole
·         Details
·         Dust jeans
·         Aero
·         Phenomenal
2
Sepatu dewasa
o    Yongki komaladi
o    FLADEO
o    Triset
o    Fila
o    Precise
o    Crocodile
o    FLD
o    Cool’shoes
3
Pakaian anak
·          Little M
·          KIDZ&TOO
·          Nevada
·          Pipiniko
4
Sepatu anak
o    Yongkidz
o    Baby millioner
5
Peralatan make up
·          Wardah
·          Revlon
·          Mustika ratu
6
Parfum
o   Odesa
o   Charlie
o   Bvlgari
o   Adidas
7
Tas
·         Belleza
·         Export
·         Oxigen
Sumber : hasil penelitian langsung pada tanggal 11 Desember 2015
Banyaknya barang-barang dengan pilihan brand ternama yang disediakaan Matahari Departement Store ini semakin menambah minat konsumen untuk berbelanja. Hal ini juga m empengaruhi pola konsumsi masyarakat urban yang dimudahkan untuk membeli barang-barang branded di Matahari.
Jika kembali membahas mengenai brand image atau citra suatu produk, berarti yang dikonsumsi masyarakat sesungguhnya adalah tanda (pesan, citra) ketimbang barang itu sendiri. Artinya, barang tidak lagi didefinisikan berdasarkan kegunaannya, melainkan berdasarkan atas apa yang dimaknai masyarakat itu sendiri. Dan, apa yang dimaknai masyarakat bukan dalam pengertian apa yang mereka lakukan, namum lebih pada hubungan masyarakat dengan seluruh sistem komoditas dan tanda.
Dalam kehidupan masyarakat urban, ada hubungan timbal balik dan tidak dapat  di pisahkan antara keberadaan citra (image) dan gaya hidup. Citra atau  image sebagai sebuah kategori di dalam relasasi simbolis di antara manusia dan dunia objek, membutuhkan aktualisasi dirinya ke dalam berbagai dunia realitas, termasuk gaya hidup.[7]Mengenai gaya hidup ini akan dijelaskan pada bagian selanjutya.
Gaya Hidup Berbelanja di Store Modern
            Perilaku konsumen dalam melakukan kegiatan konsumsi selain di pengaruhi berbagai faktor sosial seperti kelas, perbedaan usia, gender, dan lain-lain,  juga di pengaruhi oleh gaya hidup.     gaya hidup diartikan sebagai penyesuaian individu/seseorang terhadap lingkungannya untuk untuk memenuhi kebutuhan yang membuatnya dapat bersosialisasi dan menyatu dengan orang di sekitarnya. Gaya hidup dapat berupa kebiasaan, pandangan, respon terhadap hidup, serta terutama perkengkapan untuk hidup.[8]
Munculnya matahari sebagai store modern pertama di Bogor menghadirkan sensasi berbelanja yang berbeda dari toko-toko ritel sebelumnya labelling yang diberikan masyarakat kepada matahari sebagai tempat berbelanja yang memiliki gengsi tinggi terlihat dari fasilitas yang diberikan oleh Matahari demi kenyamanan para pelanggannya. Fasilitas-fasilitas ini lah yang membuat ritual berbelanja sudah berubah menjadi gaya hidup.
            Berikut ini kita simak hasil wawancara penulis dengan beberapa pengunjung Matahari Departement Store. Pertanyaan yang diberikan penulis adalah “Mengapa anda lebih memilih berbelanja di Matahari Departement Store?”

“disini banyak pilihannya sih, terus barang-barangnya juga kan bermerk dan harganya udah  tertera ya jadi ga khawatir ditipu, kalau saya belanja di pasar anyar yg jual suka ngasih harga ga kira-kira padahal barang yang dijual ga ada merk dan biasa aja. Dan malu juga sih gue kalau belanja baju di pasar hahahaha ga mau-mau lagi deh” (Agung Pratama, 20 tahun, mahasiswa Gunadarma)
“Gua belanja disini teh tenang, ngga panas, wangi, terus kalau lagi milih baju ga diikutin sama si mba-mba pramuniaganya. Biasa di tempat lain kalau belanja lagi milih baju suka diliatinnn terus ihh males kalau disini engga. Masalah tempat mah gausah di ragukan lagi deh ya namanya juga store modern pasti nyaman” (Khairunnisa Andjani, 21 tahun, pegawai prudential)
“saya udah males desek-desekan di pasar, udah panas yg jual jutek bajunya ya lumayan bagus lah tapi mending beli disini ah, walaupun mahal dikit gpp yang penting saya ga emosi pas lg belanja. Kalau lg belanja emosi nanti barang-barang yan dibeli ga beres semua deh” (Asri, 30tahun, pegawai swasta)
Dari hasil wawancara dapat kita ketahui bahwa pemberian Label mengenai store modern seperti Matahari dan store tradisional sudah terpaut sangat jauh.  Terutama dari segi fasilitas, masyarakat melihat store tradisional seperti tempat berbelanja yang panas, sempit, bau, pelayanan tidak baik. Sedangkan masyarakat menganggap  Matahari Departement Store sebagai tempat berbelanja yang bersih, wangi, pelayananya baik, barang yang di pajang tersusun rapih, dan nyaman.
Perbedaan-perbedaan dalam konteks fasilitas tersebut membuat berubahnya gaya hidup berbelanja pada masyarakat dulu dan sekarang. Dahulu kebanyakan orang berbelanja pakaian, sepatu dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan sandangnya. mereka rela  berdesak-desakan di dalam pasar dan terlibat cek cok dengan penjual dalam proses tawar menawar demi mendapatkan harga yang murah dan sesuai dengan koceknya. Sedangkan saat ini orang rela membeli barang dengan harga yang lebih mahal asalkan tempatnya untuk berbelanja nyaman dan tenang. Hingga saat ini berbelanja di store modern yang nyaman sudah menjadi kebiasaan dan gaya hidup masyarakat urban.
Kebiasaan tersebut sudah melekat dan sulit dihilangkan dari masyarakat. Keterlekatan tersebut yang menjadi sebuah gejala embeddedness. Embeddednes adalah suatu konsep new economic sociology, yang digunakan untuk menjelaskan fenomena perilaku hubungan ekonomi dalam hubungan sosial. [9] Jadi masarakat kota bogor pada saat ini, telah berprilaku konsumi tanpa melihat apa yang sebenarnya mereka butuhkan, tetapi mereka melihat dari bagaimana barang tersebut dapat membuat dirinya memiliki sosial yang baik (sebagai prestise). Dalam melakukan kegiatan konsumsi tersebut mereka juga lebih memilih bagaimana mereka dapat merasa nyaman dan aman, tanpa harus merasa was-was saat mereka berbelanja. Selain itu, dengan berbelanja di Store moderen seseorang dapat memiliki prestise dari barang yang mereka miliki. Karena bila berbelanja di Store moderen, seseorang akan merasa lebih bangga karena memiliki barang dengan harga dan kualitas yang baik.
Selain karena fasilitas-fasilitas yang disediakan Matahari Departement Store yang atau store modern lainnya, gaya hidup berbelanja di store modern juga di pengaruhi oleh trend fashion yang  berkembang di pasaran. Berikut ini adalah tabel data yang diolah dari hasil wawancara mengenai alasan mengapa memutuskan untuk membeli pakaian saat ini.
Alasan
Jumlah
Karena baju di rumah sudah banyak yang rusak
1
Ingin mencari model yang sedang tren
11
Punya voucer diskon
2
Iseng saja, habis gajihan
2

            Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa banyak orang berbelanja bukan karena serta merta butuh terhadap barang terserbut. Melainkan karena mengikuti tren yang sedang marak di pasaran. Hal ini merupakan salah satu gaya hidup yang ditunjukan seseorang sebagai upaya membuat diri eksis dan terlihat modern. Karena orang yang berpenampilan modern dan mengikuti zaman dianggap mempunyai kelas sosial yang lebih tinggi.
            Seseorang memutuskan untuk membeli sebuah baju merek Logo Jeans, apakah ia melakukan semata-mata hanya membeli baju untuk menutupi badannya dari panas dan dingin atau untuk menunjukan kelas sosialnya? Masyarakat urban saat ini saat mengonsumsi sesuatu bukan karena sekedar ingin membeli fungsi pertama melainkan lebih banyak didorong untuk menjaga citra diri, citra bahwa ia bukan termasuk orang yang ketinggalan zaman atau karena ia sedang berusaha menjaga citra sebagai bagian dari kelompok kelas sosial atas yang selayaknya memiliki pakaian merek Logo Jeans.
Penutup
Matahari Departement Store sudah selalu diidentikan dengan tempat berbelanja masyarakat elit. Masyarakat yang menginginkan segala sesuatunya serba nyaman dan tidak peduli seberapa harga yang harus di bayarkan lebih. Namun cap sebagai “tempat belanja elit” ini tidak begitu saja di berikan masyarakat, cap yang diberikan ini karena totalitas Matahari Departement Store dalam memberikan fasilitas-fasilitas yang mewah dan sangat baik. Seperti tempat berbelanjanya yang nyaman, pelayannya ramah, media promosi iklan banyak, dan banyaknya barang-barang bermerek yang disediakan.
Perubahan pola konsumsi pada masyarakat urban ini disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya karena masyarakat urban saat ini sudah tehegemoni oleh promosi-promosi yang diiklankan oleh Matahari Departement Store membuat masyarakast menjadi memiliki kebutuhan palsu akan hidupnya, yang mengakibatkan masyarakat membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan dan hanya untuk memuaskan hasratnya.
Pola konsumsi yang mengutamakan brand image juga telah mendarah daging dengan masyarakat. Pola konsumsi seperti ini yang mengakibatkan lahirnya budaya konsumerisme. Budaya yang hanya melihat suatu barang bukan hanya dari fungsionalnya saja tapi juga untuk menujukan stastus sosialnya. Dan masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain sebagai masyarakat dengan kelas sosial tinggi. Budaya seperti ini sangat sulit untuk dihilangkan, karena budaya konsumerisme melahirkan masyarakat yang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah ia beli.
Gaya hidup masyarakat urban saat ini sangat dipengaruhi oleh perubahan keingin untuk merasakan kenyamanan dan kepraktisan. Masyarakat sudah malas berdesak-desakan di pasar tradisional yang sumpek dan panas. Masyarakat lebih memilih untuk berbelanja di Matahari Departement Store yang memiliki tempat yang nyaman dan wangi serta pelayanan baik. Hal ini dibuktikan dengan kerelaan masyarakat untuk membayar lebih mahal demi kenikmatan yang ingin mereka dapatkan.
            Selain itu saat ini masyarakat tidak ingin dianggap sebagai orang yang ketinggalan jaman. Sehingga gaya hidup mereka dalam melakukan kegiatan konsumsi selalu mengutamakan trend yang sedang marak di pasaran. Masyarakat menganggap bahwa orang yang selalu up to date memiliki status sosial yang lebih tinggi. Maka dari itu masyarakat berlomba-lomba untuk selalu membeli barang-barang baru yang sedang trend di pasaran.

Daftar pustaka
Anita dan Veni. Budaya Konsumerisme, Bandung: PT Refika Aditama, 2008.
Damsar dan indrayani.Pengantar Sosiologi Ekonomi, Jakarta: kencana Pranamedia,2009.
Internet : www.Matahari.co.id
Suyanto, Bagong.Sosiologi Ekonomi Kapitalis dan Konsumsi Masyarakat Post-Modernisme, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013.
Widyamartya dan Dillistone, W. Daya Kekuatan Simbol, Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 2006.
Jurnal : Budaya Konsumerisme Masyarakat Perkotaan



1Widyamartaya dan William Dillistone, Daya Kekuatan Simbol (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 2006), hal. 9.

[2]Di olah dari www.matahari.co.id yang di akses pada tanggal 16 Desember 2015
[3]Bagong Suyanto. Sosiologi ekonomi kapitalisme dan konsumsi di era masyarakat  post-modernisme,(Jakarta.  Kencana  prenada media group, 2013), Hlm.109-110.
[4]Ibid, hlm. 200.
[5]Anita dan Veni, Budaya Konsumerisme (Bandung: PT Refika Aditama, 2008), hlm.18.
[6]Alfitri. 2007.”BUDAYA KONSUMERISME MASYARAKAT PERKOTAAN”.Majalah Empirika, (online), Volume XI, (http://www.eprints.unsri.ac.id diakses 16 Desember 2015)
[7]Bagong Suyanto, Op.cit., hlm.143.
[8]Ibid. Hlm.138.

[9]Damsar dan indrayani, Pengantar Sosiologi Ekonomi, (Jakarta: kencana Pranamedia,2009), hlm. 139.