Pola Konsumsi Belanja Masyarakat Perkotaan
Indri Sinta Octari
(Studi Kasus: Matahari Departement Store Cabang Jalan Kapten Muslihat Kota Bogor)
4825140980
Sosiologi Pembangunan A 2014
Abstrak
Saat ini belanja merupakan
aktifitas rutin yang dilakukan masyarakat urban. Dalam kegiatan berbelanja di
store moderen yang mereka lakukan, ternyata dapat mempengaruhi perubahan gaya
hidup berbelanja masyarakat, dimana saat
ini berbelanja bukan lagi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan saja.
Berbelanja saat ini sudah menjadi nilai simbolik masyarakat yang beorientasi
pada gaya hidup. Munculnya Matahari Departmenet Store sebagai pelopor store
modern di Indonesia menjadi salah satu dampak dari perubahan pola konsumsi dan
gaya hidup masyarakat moderen. Dapat dilihat dari semakin banyaknya
cabang-cabang Matahari Departement Store yang hampir ada di seluruh kota di
Indonesia.
Kata
kunci : Konsumsi, gaya hidup, store modern
Pengantar
Tulisan ini akan mengulas pola konsumsi
dan sebuah gaya hidup serta konstruksi sosial yang dibangun di balik sebuah
aktifitas konsumsi masyarkaat urban. Tulisan ini mengambil latar belakang pola
konsumsi masyarakat Kota Bogor dimana tingkat konsumsi warganya terbilang cukup
tinggi. Aktifitas konsumsi disini akan membahas kegiatan belanja yang dilakukan
masyarakat urban, khususnya berbelanja di store moderen. Dimana kegiatan
berbelanja saat ini bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan pokok saja, tetapi
tidak jarang kegiatan berbelanja yang mereka lakukan hanya untuk memenuhi
hasrat keinginan untuk memiliki barang tertentu dan bahkan dalam rangka
menunjukan identitas dirinya melalui berbelanja. Kegiatan belanja yang mereka
lakukan tidak lain merujuk kepada gaya hidup masyarakat kaum urban di kota-kota
besar yang berkerja di sektor formal dan terbiasa dengan gaya hidup hedonis.
Gaya
hidup hedonis masyarakat urban tersebut ternyata juga dapat mempengaruhi
nilai-nilai terhadap suatu barang. Barang-barang dimata masyarakat saat ini
khususnya masyarakat urban, memiliki nilai simbolik yang dapat menunjang atau
dapat juga menurunkan identitas diri mereka melalui barang-barang yang mereka
pakai. Merujuk pada pengertian simbol menurut William Dillistone yaitu simbol
merupakan gambaran dari suatu objek nyata atau khayal yang menggugah perasaan atau
digugah oleh perasaan, perasaan-perasaan tersebut berhubungan dengan objek,
satu sama lain, dan dengan subjek.[1]
Jelas bahwa barang-barang yang masyarakat pakai saat ini dapat menggugah
perasaan dirinya sendiri atau orang lain, tergantung pada penilaian seseorang
terhadap barang tersebut. Barang akan dianggap lebih berharga atau mewah
manakala barang yang seseorang gunakan memiliki merek ternama atau original.
Sebaliknya, barang-barang yang tidak memiliki merek ternama dan bahkan “KW”
pada zaman sekarang dianggap tidak memiliki nilai prestise terhadap orang lain.
Masyarakat
pada dasarnya memang tidak dapat terlepas dari kegiatan ekonomi baik produksi,
distribusi dan konsumsi. Selain dari kegiatan ekonomi, manusia pada hakikatnya
memang menempatkan dirinya pada orang lain, dimana manusia tidak dapat hidup
tanpa adanya orang lain. Manusia khususnya masyarakat membutuhkan pola konsumsi
sebagai tujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis dirinya mulai dari sandang,
pangan dan papan. Hal tersebut lah yang membuat sotre moderen khususnya
Matahari Departemen Store berkembang pesat dengan membuka cabang-cabang baru.
Dengan
adanya Matahari Departement Store di Kota Bogor, membuat masyarakat melakukan
aktifitas konsumsi yang memang mereka inginkan. Sebagai salah satu store modern
ternama dengan berbagai fasilitas yang mereka tawarkan tentu dapat memanjakan
pembelinya. Matahari Departement Store pada dasarnya memanfaatkan pola konsumsi
masyarakat terutama kelas menengah ke atas. Dimana masyarakat kelas menengah ke
atas rata-rata memiliki pola konsumsi yang instan dan ingin selalu dimanjakan
oleh fasilitas-fasilitas moderen. Selain itu, masyarakat urban juga sudah tidak
mau lagi berdesak-desakan di pasar tradisional yang kondisinya tidak nyaman,
mulai dari fasilitas, suasana dan barang belanja yang tidak memuaskan.
Tulisan
ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah profil Matahari Departement
Store yang menyajikan fasilitas-fasilitas dan barang dagangan yang dicari oleh
masyarakat menengah ke atas. Kedua, pola
konsumsi belanja masyarakat Kota Bogor dan ketiga, makna dan gaya hidup
berbelanja di store modern.
Profil Matahari Departement Store
Matahari
Depertement Store adalah perusahaan ritel terkemuka yang menyediakan
perlengkapan paikan, asesoris, sepatu dan sandal, parfum, produk kecantikan dan
produk fasion lainnya. Sebelum menjadi store besar dan terkemuka, dahulu store
ini berbentuk gerai yang dibuka oleh Hari Darmawan di daerah Pasar Baru Jakarta
Pusat pada tanggal 24 Oktober 1958 dan hanya menjual pakaian-pakaian sederhana
dalam bentuk jadi maupun bahan mentah. Namun dengan omset perbulan yang
jumlahnya besar, Pak Hari Darmawan akhirnya memutuskan untuk memperluas toko
tersebut pada tahun 1978 dan mendirikan cabang di berbagai lokasi.[2]
Cabang
pertama yang didirikan di luar Jakarta adalah Matahari Departement Store cabang
bogor, yang dahulu bernama Sinar Matahari Bogor. Cabang pertamanya ini di
dirikan pada tahun 1980, Matahari cabang Bogor ini berlokasi di Jl. Raya
Kapten Muslihat No.14 Bogor Tengah. Letaknya yang strategis yaitu di sekitar
pasar anyar tepat di sebrang taman Topi Square dan dekat dengan stasiun Bogor,
membuat Matahari Departement Store tidak pernah sepi pengunjung. Dengan
bangunan yang masih orisinil sejak awal didirikan sampai sekarang dan dengan perenofasian
gedung secara berkala, membuat Matahari Departement Store masih menjadi tempat
favorit berbelanja untuk masyarakat Kota Bogor dan sekitarnya.
Pemilihan
letak yang strategis dalam menentukan letak dari suatu perusahaan atau store,
merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh seseorang atau sekelompok
pengusaha untuk dapat menarik pelanggan dengan cepat. Hal tersebut tentunya
akan mempermudah akses dari para konsumennya. Bila kita balik ke pembahasan
sebelumnya tentang instan, tentu kemudahan akeses untuk mencapai tujuan mereka
ke Matahari Departement Store ini akan terealisasikan. Berbeda bila store
moderen ini berada di pojok-pojok daerah yang aksesnya sulit dan daya beli
masyarakatnya rendah, tentu akan berdampak buruk kepada penghasilan dan
pemasukan yang didapat oleh departement store itu sendiri.
Foto 1 : Tampak
depan Matahari Departement store cabang Bogor
(Koleksi Foto
Probadi)
Dari foto diiatas dapat dibuktikan
bahwa letak Matahari Departement Store cabang Bogor memiliki letak yang
trategis, dimana letakanya berada di pinggir jalan dan dapat di akses dengan
mudah melalui angkutan umum. Di sebelah kiri terdapat Taman Topi Square yang
kepopularitasannya masih kalah dengan Matahari Departement Store, karena lebih
menawarkan belanjaan yang terbilang komplit. Sedangkan di sebelah kanan
terdapat kantor polsek Bogor tengah, yang tentunya berpengaruh juga terhadap
pola konsumsi konsumen. Konsumen diuntungkan dengan rasa aman, karena dengan
fasilitas keamanan yang telah dimiliki oleh Matahari Departement Store , hal
itu juga di dukung oleh adanya Kantor Polisi yang dapat mengamankan kondisi
secara langsung yang terjadi di sekitaran Matahari Departement Store. Karena
dapat diakses dengan angkutan umum, membuat para pengunjung Matahari tidak
perlu repot-repot bermacet-macetan menggunakan kendaraan pribadi miliknya
Tidak hanya tempatnya yang
strategis, Matahari Departement Store ini mempunyai fasilitas yang sangat baik.
Dengan suasananya yang nyaman dan adanya pendingin udara yang cukup,
pencahayaan yang baik, adanya tempat mencoba baju dan konsumen yang datang
disambut juga di layani oleh para pramuniaga yang menarik. Tidak kalah penting
dari segi keamanan, Matahari memiliki keunggulan lainnya yaitu dengan adanya
CCTV di berbagai tempat yang membuat rasa nyaman para konsumen makin
terbentuk. Fasilitas-fasilitas yang baik
ini dapat menarik banyak orang untuk datang dan berbelanja disini.
Foto 3,4,5 : suasana di dalam
Matahari Departement Store dan fasilitas-fasilitas yang ada.
Bisa dilihat pada gambar-gambar di
atas, Gerai-gerai Matahari yang modern dan luas menyajikan pengalaman
berbelanja dinamis dan inspiratif. Hal itu membuat konsumen ingin datang
kembali dan menjadikan Matahari sebagai departement store pilihan di kalangan
menengah Indonesia yang tumbuh pesat. Jika dibandingkan dengan pasar ritel tradisional
tentu sangat berbeda. Di Matahari Departement Store barang-barang disusun
dengan rapi dan disimpan di posisi yang mudah dijangkau oleh konsumen. Dengan Tempatnya
pun luas dan tidak becek juga tidak berdesak-desakan walaupun Matahari ini
selalu ramai pengunjung.
Perubahan pola konsumsi belanja
masyarakat Kota Bogor
Pola
konsumsi dapat diartikan sebagai proporsi atau jumlah pengeluaran terhadap
kebutuhan individu untuk memenuhi kebutuhannya yang diperoleh dari
pendapataanya. Jadi, orang yang berepenghasilan tinggi pola konsumsinya pasti
berbeda dengan orang yang berpenghasilan rendah. Selain pendapatan, pola
konsumsi juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, kondisi tempat tinggal dan
iklim, tingkat beradaban bangsa, kebiasaan dan kondisi sosial budaya, dan
selera yang sedang berkembang di masyarakat. Namun, bagaimanapun tingkatan
kelas sosial individu biasanya kebutuhan pokoklah yang pasti diutamakan.
Dalam
konteks kehidupan masyarakat di kota, selain di pengaruhi oleh kepribadian
konsumen, pola konsumsi juga dipengaruhi oleh lingkungan perkotaan yang moderen.
Lingkungan perkotaan yang dimaksud adalah semakin banyak muncul pusat-pusat
perbelanjaan moderen yang dapat mendorong orang untuk mengunjungi dan berbelanja
secara terus menerus. Ini salah satu faktor yang menyebabkan berubahnya pola konsumsi
masyarakat.
Berikut
ini hasil wawancara kepada pengunjung dengan pertanyaan “seberapa sering anda
belanja disini? Biasanya apa yang anda beli?”
“gatau deh gua berapa
sering ya kesini ga ngitungin,biasanya beli baju atau sepatu sih. tapi gua
sering banget kalau ngelewat sini terus liat ada promo-promo baju gitu di
pajang di luar, gua pasti langsung masuk kesini. Kaya ada godaan gitu. Jadi
suka beli baju beberapa biji dehh padahal lagi ga butuh-butuh amat” (Rega
Putri, 19tahun, mahasiswa STIE Binaniaga)
“ihh gua tuh jarang
banget tau kesini soalnya emang gua jarang belanja, paling pas lebaran aja atau
kalau mau ke undangan beli baju dulu hahahahaaha. Apalagi kalau lebaran gua
suka gakuat liat iklan di tv bajunya Matahari bagus-bagus banget dah gua jadi
pengen apalagi yang matahari diskonnya
bisa buy 2 get 1 atau dapet voucer belanja. Ampun deh ternyata pas kesini emang
bener waktu itu gua dapet voucer gocap!” (Farah fadiah, 20
tahun, mahasiswi)
Dari
hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pada tempat perbelanjaan modern seperti Matahari
Departement Store, pengunjung cenderung dibimbing untuk membeli suatu barang
setelah melihat dan tertarik pada suatu produk. Sehingga orang akan memutuskan
untuk membeli setelah dia berinteraksi dengan produk yang dipamerkan memang
mendorong orang untuk dibeli.Disini pola konsumsi sudah berubah, yang tadinya
untuk memenuhi kebutuhan dari hasil pendapatnya menjadi hanya untuk memuas kan
hasrat semata. Seperti yang di katakan Jean Bouldiard yang mencirikan
masyarakat konsumer sebagai masyarakat yang didalamnya terjadi pergeseran
logika dalam konsumsi, yaitu dari logika kebutuhan menuju logika hasrat, yaitu
bagaimana konsumsi menjadi pemenuhan akan tanda-tanda.[3]
Hasil dari wawancara tersebut juga
didapat bahwa media massa baik cetak maupun elektronik terutama iklan televisi
telah membentuk pola konsumsi pada masyarakat dalam membeli produk. Interaksi
antara seseorang dan media iklan dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam
memilih sebelum memutuskan untuk membeli barang. Seperti misalnya iklan
Matahari Departement Store di televisi yang diperankan oleh artis cantik dengan
menggunakan baju dari Matahari. Artis yang menjadi model iklan ini terlihat
sangat menawan dan seketika banyak
lelaki yang terpesona oleh gadis tersebut karena baju yang ia pakai. Konsumen
yang melihat iklan tersebut tertarik dan ingin terlihat cantik seperti artis
yang mengisi iklan baju dari Mataharitersebut.
Tentu ini sangat berlebihan karena ketertarikan lawan jenis tidak serta merta
terjadi begitu saja karena perubahan baju yang dipakai.
Kasus iklan ini sangat berkaitan dengan
teori simulasi teknologi (technologi of
simulacra) yang diungkapkan oleh Jean Baudrillard. Melalui teorinya ia menggambarkan
kehidupan masyarakat modern ini sebagai hiper-realitas. Media berhenti menjadi
cerminan realitas, tetapi justru menjadi realitas itu sendiri atau bahkan lebih
nyata dari realitas itu. Misalnya TV, surat kabar, tabloid yang semakin populer
disini kebohongan dan distrosi yang disajikan kepada pemirsa melebihi relitas.
Kebohongan dan distrosi itu adalah hiper-realitas[4].
Selain
itu gaya hidup masyarakat saat ini yang mengutamakan brand image menyebabkan gaya hidup yang mengarah pada perilaku
hedonis. Gaya hidup yang mengarah ke prilaku hedonis berkembang secara pesat
pada masyarakat kaum urban sekarang. Membuat penilaian terhadap barang yang
memiliki brand ternama menjadi lebih memiliki nilai sosial (prestise). Karena
memiliki nilai sosial inilah, membuat masyarakat urban secara tidak sadar
memiliki pola konsumsi yang mengarah ke konsumerisme. Konsumerisme merupakan
merupakan ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan
proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan
atau tidak sepantasnya secara sadar dan tidak sadar serta akan terus
berkelanjutan.[5]
Pola
konsumsi konsumerisme mengakibatkan orang boros dan hanya memberikan kebutuhan
palsu kepada masyarakat. Budaya konsumerisme hanya mengharagai orang dari
sebanyak apa mereka mengeluarkan uang untuk mengonsumsi.[6]Semakin
banyak dan prestise barang yang dibeli seseorang semakin ia dihargai. Supaya
mendapat penghargaan orang rela membeli barang-barang yang sebetulnya tidak
terlalu ia perlukan atau diluar kemampuannya. Bahkan sering dari mereka rela
menabung dengan susah payah agar dapat membeli barang yang memiliki brand ternama yang sangat mereka impikan
padahal hal tersebut tidak menjadi kebutuhan pokok dari dirinya. Hal tersebut
dapat menjadikan masyarakat menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga
ketergantungan tersebut tidak dapat bahkan susah dihilangkan.
Ketergantungan
kepada suatu produk tersebut diakibatkan masyarakat konsumerisme dalam hal ini
tidak akan pernah merasa terpuaskan, hanya demi suatu “perbedaan”. Kegiatan
konsumsi yang dilakukan masyarakat urban bukan hanya melihat dari segi fungsi
dan kenikmatan saja, tapi juga untuk memperoleh perbedaan. Lewat perbedaan ini
lah status sosial seseorang dalam suatu masyarakat muncul. Masyarakat rela
untuk merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk tampil beda.
Tabel I
Barang-barang ber”merek” yang
dijual di Matahari Departement Store
|
No
|
Jenis
barang
|
Brand
yang tersedia
|
|
1
|
Pakaian dewasa
|
·
Nevada
·
St. Yves
·
Stanley Adams
·
Levi’s
·
Lois
·
Cole
·
Details
·
Dust jeans
·
Aero
·
Phenomenal
|
|
2
|
Sepatu dewasa
|
o Yongki
komaladi
o FLADEO
o Triset
o Fila
o Precise
o Crocodile
o FLD
o Cool’shoes
|
|
3
|
Pakaian anak
|
·
Little M
·
KIDZ&TOO
·
Nevada
·
Pipiniko
|
|
4
|
Sepatu anak
|
o Yongkidz
o Baby
millioner
|
|
5
|
Peralatan make up
|
·
Wardah
·
Revlon
·
Mustika ratu
|
|
6
|
Parfum
|
o
Odesa
o
Charlie
o
Bvlgari
o
Adidas
|
|
7
|
Tas
|
·
Belleza
·
Export
·
Oxigen
|
Sumber : hasil penelitian langsung
pada tanggal 11 Desember 2015
Banyaknya
barang-barang dengan pilihan brand ternama yang disediakaan Matahari
Departement Store ini semakin menambah minat konsumen untuk berbelanja. Hal ini
juga m empengaruhi pola konsumsi masyarakat urban yang dimudahkan untuk membeli
barang-barang branded di Matahari.
Jika
kembali membahas mengenai brand image
atau citra suatu produk, berarti yang dikonsumsi masyarakat sesungguhnya adalah
tanda (pesan, citra) ketimbang barang itu sendiri. Artinya, barang tidak lagi
didefinisikan berdasarkan kegunaannya, melainkan berdasarkan atas apa yang
dimaknai masyarakat itu sendiri. Dan, apa yang dimaknai masyarakat bukan dalam
pengertian apa yang mereka lakukan, namum lebih pada hubungan masyarakat dengan
seluruh sistem komoditas dan tanda.
Dalam
kehidupan masyarakat urban, ada hubungan timbal balik dan tidak dapat di pisahkan antara keberadaan citra (image) dan gaya hidup. Citra atau image sebagai sebuah kategori di dalam
relasasi simbolis di antara manusia dan dunia objek, membutuhkan aktualisasi
dirinya ke dalam berbagai dunia realitas, termasuk gaya hidup.[7]Mengenai
gaya hidup ini akan dijelaskan pada bagian selanjutya.
Gaya Hidup Berbelanja di Store
Modern
Perilaku
konsumen dalam melakukan kegiatan konsumsi selain di pengaruhi berbagai faktor
sosial seperti kelas, perbedaan usia, gender, dan lain-lain, juga di pengaruhi oleh gaya hidup. gaya
hidup diartikan sebagai penyesuaian individu/seseorang terhadap lingkungannya
untuk untuk memenuhi kebutuhan yang membuatnya dapat bersosialisasi dan menyatu
dengan orang di sekitarnya. Gaya hidup dapat berupa kebiasaan, pandangan,
respon terhadap hidup, serta terutama perkengkapan untuk hidup.[8]
Munculnya
matahari sebagai store modern pertama di Bogor menghadirkan sensasi berbelanja
yang berbeda dari toko-toko ritel sebelumnya labelling yang diberikan masyarakat kepada matahari sebagai tempat
berbelanja yang memiliki gengsi tinggi terlihat dari fasilitas yang diberikan
oleh Matahari demi kenyamanan para pelanggannya. Fasilitas-fasilitas ini lah
yang membuat ritual berbelanja sudah berubah menjadi gaya hidup.
Berikut ini kita simak hasil
wawancara penulis dengan beberapa pengunjung Matahari Departement Store.
Pertanyaan yang diberikan penulis adalah “Mengapa anda lebih memilih berbelanja
di Matahari Departement Store?”
“disini banyak pilihannya sih,
terus barang-barangnya juga kan bermerk dan harganya udah tertera ya jadi ga khawatir ditipu, kalau
saya belanja di pasar anyar yg jual suka ngasih harga ga kira-kira padahal
barang yang dijual ga ada merk dan biasa aja. Dan malu juga sih gue kalau
belanja baju di pasar hahahaha ga mau-mau lagi deh” (Agung
Pratama, 20 tahun, mahasiswa Gunadarma)
“Gua belanja disini teh tenang,
ngga panas, wangi, terus kalau lagi milih baju ga diikutin sama si mba-mba
pramuniaganya. Biasa di tempat lain kalau belanja lagi milih baju suka
diliatinnn terus ihh males kalau disini engga. Masalah tempat mah gausah di
ragukan lagi deh ya namanya juga store modern pasti nyaman” (Khairunnisa
Andjani, 21 tahun, pegawai prudential)
“saya udah males desek-desekan di
pasar, udah panas yg jual jutek bajunya ya lumayan bagus lah tapi mending beli
disini ah, walaupun mahal dikit gpp yang penting saya ga emosi pas lg belanja.
Kalau lg belanja emosi nanti barang-barang yan dibeli ga beres semua deh” (Asri,
30tahun, pegawai swasta)
Dari hasil wawancara dapat kita ketahui
bahwa pemberian Label mengenai store modern seperti Matahari dan store
tradisional sudah terpaut sangat jauh.
Terutama dari segi fasilitas, masyarakat melihat store tradisional
seperti tempat berbelanja yang panas, sempit, bau, pelayanan tidak baik.
Sedangkan masyarakat menganggap Matahari
Departement Store sebagai tempat berbelanja yang bersih, wangi, pelayananya
baik, barang yang di pajang tersusun rapih, dan nyaman.
Perbedaan-perbedaan dalam konteks
fasilitas tersebut membuat berubahnya gaya hidup berbelanja pada masyarakat
dulu dan sekarang. Dahulu kebanyakan orang berbelanja pakaian, sepatu dan lain-lain
untuk memenuhi kebutuhan sandangnya. mereka rela berdesak-desakan di dalam pasar dan terlibat
cek cok dengan penjual dalam proses tawar menawar demi mendapatkan harga yang
murah dan sesuai dengan koceknya. Sedangkan saat ini orang rela membeli barang
dengan harga yang lebih mahal asalkan tempatnya untuk berbelanja nyaman dan
tenang. Hingga saat ini berbelanja di store modern yang nyaman sudah menjadi
kebiasaan dan gaya hidup masyarakat urban.
Kebiasaan tersebut sudah melekat dan
sulit dihilangkan dari masyarakat. Keterlekatan tersebut yang menjadi sebuah
gejala embeddedness. Embeddednes
adalah suatu konsep new economic
sociology, yang digunakan untuk menjelaskan fenomena perilaku hubungan
ekonomi dalam hubungan sosial. [9]
Jadi masarakat kota bogor pada saat ini, telah berprilaku konsumi tanpa melihat
apa yang sebenarnya mereka butuhkan, tetapi mereka melihat dari bagaimana
barang tersebut dapat membuat dirinya memiliki sosial yang baik (sebagai
prestise). Dalam melakukan kegiatan konsumsi tersebut mereka juga lebih memilih
bagaimana mereka dapat merasa nyaman dan aman, tanpa harus merasa was-was saat
mereka berbelanja. Selain itu, dengan berbelanja di Store moderen seseorang
dapat memiliki prestise dari barang yang mereka miliki. Karena bila berbelanja
di Store moderen, seseorang akan merasa lebih bangga karena memiliki barang
dengan harga dan kualitas yang baik.
Selain karena fasilitas-fasilitas yang
disediakan Matahari Departement Store yang atau store modern lainnya, gaya
hidup berbelanja di store modern juga di pengaruhi oleh trend fashion yang
berkembang di pasaran. Berikut ini adalah tabel data yang diolah dari
hasil wawancara mengenai alasan mengapa memutuskan untuk membeli pakaian saat
ini.
|
Alasan
|
Jumlah
|
|
Karena
baju di rumah sudah banyak yang rusak
|
1
|
|
Ingin
mencari model yang sedang tren
|
11
|
|
Punya
voucer diskon
|
2
|
|
Iseng
saja, habis gajihan
|
2
|
Dari tabel di atas dapat diketahui
bahwa banyak orang berbelanja bukan karena serta merta butuh terhadap barang
terserbut. Melainkan karena mengikuti tren yang sedang marak di pasaran. Hal
ini merupakan salah satu gaya hidup yang ditunjukan seseorang sebagai upaya
membuat diri eksis dan terlihat modern. Karena orang yang berpenampilan modern
dan mengikuti zaman dianggap mempunyai kelas sosial yang lebih tinggi.
Seseorang memutuskan untuk membeli
sebuah baju merek Logo Jeans, apakah ia melakukan semata-mata hanya membeli
baju untuk menutupi badannya dari panas dan dingin atau untuk menunjukan kelas
sosialnya? Masyarakat urban saat ini saat mengonsumsi sesuatu bukan karena
sekedar ingin membeli fungsi pertama melainkan lebih banyak didorong untuk
menjaga citra diri, citra bahwa ia bukan termasuk orang yang ketinggalan zaman
atau karena ia sedang berusaha menjaga citra sebagai bagian dari kelompok kelas
sosial atas yang selayaknya memiliki pakaian merek Logo Jeans.
Penutup
Matahari Departement Store sudah selalu
diidentikan dengan tempat berbelanja masyarakat elit. Masyarakat yang
menginginkan segala sesuatunya serba nyaman dan tidak peduli seberapa harga
yang harus di bayarkan lebih. Namun cap sebagai “tempat belanja elit” ini tidak
begitu saja di berikan masyarakat, cap yang diberikan ini karena totalitas
Matahari Departement Store dalam memberikan fasilitas-fasilitas yang mewah dan
sangat baik. Seperti tempat berbelanjanya yang nyaman, pelayannya ramah, media
promosi iklan banyak, dan banyaknya barang-barang bermerek yang disediakan.
Perubahan pola konsumsi pada masyarakat
urban ini disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya karena masyarakat urban saat
ini sudah tehegemoni oleh promosi-promosi yang diiklankan oleh Matahari
Departement Store membuat masyarakast menjadi memiliki kebutuhan palsu akan
hidupnya, yang mengakibatkan masyarakat membeli barang yang sebenarnya tidak
mereka butuhkan dan hanya untuk memuaskan hasratnya.
Pola konsumsi yang mengutamakan brand image juga telah mendarah daging
dengan masyarakat. Pola konsumsi seperti ini yang mengakibatkan lahirnya budaya
konsumerisme. Budaya yang hanya melihat suatu barang bukan hanya dari
fungsionalnya saja tapi juga untuk menujukan stastus sosialnya. Dan masyarakat
berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain sebagai masyarakat
dengan kelas sosial tinggi. Budaya seperti ini sangat sulit untuk dihilangkan,
karena budaya konsumerisme melahirkan masyarakat yang tidak akan pernah puas
dengan apa yang sudah ia beli.
Gaya hidup masyarakat urban saat ini
sangat dipengaruhi oleh perubahan keingin untuk merasakan kenyamanan dan
kepraktisan. Masyarakat sudah malas berdesak-desakan di pasar tradisional yang
sumpek dan panas. Masyarakat lebih memilih untuk berbelanja di Matahari
Departement Store yang memiliki tempat yang nyaman dan wangi serta pelayanan
baik. Hal ini dibuktikan dengan kerelaan masyarakat untuk membayar lebih mahal
demi kenikmatan yang ingin mereka dapatkan.
Selain itu saat ini masyarakat tidak
ingin dianggap sebagai orang yang ketinggalan jaman. Sehingga gaya hidup mereka
dalam melakukan kegiatan konsumsi selalu mengutamakan trend yang sedang marak di pasaran. Masyarakat menganggap bahwa
orang yang selalu up to date memiliki
status sosial yang lebih tinggi. Maka dari itu masyarakat berlomba-lomba untuk
selalu membeli barang-barang baru yang sedang trend di pasaran.
Daftar pustaka
Anita
dan Veni. Budaya Konsumerisme,
Bandung: PT Refika Aditama, 2008.
Damsar
dan indrayani.Pengantar Sosiologi Ekonomi,
Jakarta: kencana Pranamedia,2009.
Internet : www.Matahari.co.id
Suyanto, Bagong.Sosiologi Ekonomi Kapitalis dan Konsumsi
Masyarakat Post-Modernisme, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013.
Widyamartya
dan Dillistone, W. Daya Kekuatan Simbol,
Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 2006.
1Widyamartaya dan William Dillistone, Daya Kekuatan Simbol (Yogyakarta:
Pustaka Filsafat, 2006), hal. 9.
[3]Bagong
Suyanto. Sosiologi ekonomi kapitalisme
dan konsumsi di era masyarakat
post-modernisme,(Jakarta.
Kencana prenada media group,
2013), Hlm.109-110.
[4]Ibid, hlm. 200.
[5]Anita dan Veni, Budaya Konsumerisme (Bandung: PT Refika
Aditama, 2008), hlm.18.
[6]Alfitri. 2007.”BUDAYA
KONSUMERISME MASYARAKAT PERKOTAAN”.Majalah
Empirika, (online), Volume XI, (http://www.eprints.unsri.ac.id diakses 16 Desember 2015)
[7]Bagong Suyanto, Op.cit., hlm.143.
[9]Damsar dan indrayani, Pengantar Sosiologi Ekonomi, (Jakarta:
kencana Pranamedia,2009), hlm. 139.